Sabtu, 19 Januari 2013

Belajar Dengan Cinta



Cinta oh cinta.. ketika kau datang dunia seakan penuh warna. Selalu teringat wajahnya, senyumnya, suaranya. Jantung berdebar ketika didekatnya,memandanginya, ingin sekali diriku memilikinya. Aku akan terus berusaha sampai aku mendapatkannya.
[ingat, ilustrasi JONES diatas bukan merupakan ajaran islam, so don’t be JONES yaa]
Tapi itulah yang dialami remaja masa kini yang sedang terkena virus merah jambu. Pikiranya melayang tertuju pada si dia. Sampai-sampai tekad belajar yang kuat sekalipun dapat tergerus sedikit demi sedikit. Naudzubillahmindzalik. Tetapi energi apa yang dapat mengalihkan dunia seseorang seperti itu? Betapa besarnya energi itu! Itulah CINTA. Cinta melahirkan energi yang luar biasa besarnya. Cinta juga melahirkan kepekaan yang tinggi, inspiratif dan kreatif. Cinta mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk memperoleh apa yang dicintainya dan dalam proses mencintai terdapat akselerasi dan eskalasi energi serta kemampuan yang luar biasa.seperti yang dikemukakan Jalaludin Rumi ”para pecinta pasti mencari yang dicintai, berlarian diatas wajah mereka bagai aliran air yang deras menuju gelombangnya”. Jadi apa itu cinta? Mengapa bisa sedemikian hebatnya pengaruh cinta pada diri seseorang? Cinta merupakan fitrah dari Allah SWT yang ditanamkan di hati setiap insan untuk menangkap bentuk keindahan murni sehingga menjadi aktual. Dan keindahan murni itu tidak hanya terbatas pada lawan jenis ataupun sesama manusia. Namun,keindahan itu juga bisa berupa obyek-obyek yang bersifat alamiah,angka-angka atau simbol-simbol,fenomena dan bahkan noumena. Artinya jika obyek-obyek itu mampu menampakkan keindahannya yang murni, atau kita dapat melihatnya sebagai keindahan murni maka tentu akan melahirkan cinta dan energi yang dahsyat ini. Itulah mengapa terlahir berbagai jenis cinta-cinta kepada negara,organisasi,ilmu pengetahuan,syariat,bahkan cinta kepada Allah Yang Maha Agung,pemilik segala kehidupan.
Kembali ke judul kita yaitu belajar dengan cinta. Dengan segala karakteristik cinta dan energi yang menyertainya,alangkah baiknya jika cinta itu berada pada arah yang benar, bukan menjadi pengganggu konsentrasi namun menjadi energi tambahan bagi kita dalam belajar. agar resultan gaya dari cinta bernilai positif (bahasanya ckck) maka cinta itu haruslah cinta yang dapat mendorong kita dalam proses belajar. Cinta yang murni tanpa dibarengi dengan nafsu dan godaan syaitan laknatullah. Contohnya adalah seperti cinta kita kepada Allah, cinta kepada orang tua, keluarga dan cinta kepada diri kita sendiri. Kalo kita adalah hamba Allah yang benar-benar cinta kepadaNya tentunya kita akan belajar sekuat kemampuan kita karna belajar merupakan ibadah dan juga merupakan jihad disisi Allah.
Lalu belajar juga merupakan perwujudan cinta kita kepada orang tua. Ibu dan ayah kita sangat menginginkan agar kita bernasib baik, bahagia di dunia dan diakhirat. Dan tentunya kebahagiaan di dunia maupun di akhirat  dapat diri dengan belajar alias menuntut ilmu seperti pada hadits
yang diriwayatkan oleh Bukhori 
"kebaikan/ kebahagiaan di dunia dan di akhirat berserta ilmu. dan keburukan/bencana di dunia dan di akhirat berserta kebodogan"(HR.Bukhori)
`tidak kalah pentingnya belajar bagi diri kita sendiri dan keluarga kita kelak. Sekarang ini sudah semakin berlaku hukum alam yaitu yang tidak mempunyai ilmu atau skill maka ia akan tersingkir. Seperti contohnya yang akan dialami temen-temen yang sekrang kelas 12. Mereka dengan sibuknya belaja mempersiapkan bekal ilmu untuk menghadapi ujian akhir dan tes-tes penerimaan universitas. Jika mereka tidak mempersiapkan dengan matang, bisa kacau deh. 
Cara yang berikutnya yaitu dengan cara mengubah cara pandang kita terhadap pelajaran-pelajaran itu. Hal yang paling penting disini adalah sukai dulu gurunya, selalu lihat sisi positive dari guru itu, dan bila ada kekuranganya maka cobaalah kita isi dan tutupi  kekurangan tersebut hingga penuh dengan keringat usaha kita. Sugestikan dalam diri kita bahwa kita bisa mempelajarinya dengan mudah,lengkapi dengan Bismillah,jauhkan pikiran kita dari pikiran-pikiran negatif dan terus positive thinking. Lalu kita akan dapat melihat keindahan di dalam pelajaran itu. Sehingga kita dapat mencintai ilmu tersebut.
Kita juga bisa menggunakan cara-cara belajar yang membuat kita enjoy, tentunya dengan style masing-masing. Namun untuk lebih mencintai pelajaran tersebut bayangkanlah penggunaan dari ilmu tersebut seperti menggunakan prinsip parabola saat bermain PES, ataupun menggunakan prinsip-prinsip ekonomi saat melakukan bazar disekolah. Maka belajar akan lebih terasa asyik. Dan bila pelajaran itu terasa susah, La tahzan kawanku! Yakinilah segala sesuatu itu susah pada awalnya namun akan semakin mudah seriing kita melakukanya. Seperti ketika kita kecil, awalnya kita tidak bias berjalan, namun kita berusaha dari merayap, merangkak, berdiri, lalu kita di titah ibunda kita untuk berjalan, ketika berjalan masih jatuh, namun kini kita sudah bisa berlari sambil membawa beban berat. Seperti pada firman Allah
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan",(QS al insyirah a/6-7)
And be strong kawan! Belajar itu gak aka nada ruginya. Antum belajar ga berenti-berenti dari pagi ampe sore ditambah les lagi semua itu akan menjadi kebaikan bagi antum. Maka berbahagialah dan cintailah pelajaran itu, cintailah kegiatan belajar itu, cintailah dirimu, keluargamu, orang tuamu, bangsamu, agamamu, dan menghambalah kepada tuhanmu dengan ibadah yang mantap dibarengi dengan ilmu yang benar. Dengan menghadirkan cinta di setiap pembelajaran kita insyaallah akan bertambah energy, semangat, konsentrasi, memori, akal, pikiran, kondisi tubuh kita dalam jumlah yang luar biasa.
Wallahualam bisahwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar